RSS

The legacy of the Wali Songo

KETUPAT KHETEK (PENINGGALAN SUNAN GIRI)

Ketupat peninggalan pemerintahan Giri Kedathon tersebut hanya diproduksi di Kampung Giri, Kecamatan Kebomas dan mempunyai keistimewaan dibanding ketupat lain. Bukan hanya istimewa cara memasaknya, ketupat yang biasa disajikan saat lebaran itu rasanya juga berbeda.

Bentuknya, sepintas mirip ketupat lain. Dibungkus anyaman daun janur. Warnanya lebih kehijau-hijauan bila dibandingkan dengan ketupat biasa yang putih. Bahannya juga bukan beras, tetapi campuran beras dan ketan.

Rasanya lebih gurih dan lengket di tangan. Bahkan penyajiannya juga beda. Disajikan dengan parutan buah kelapa dicampur dengan cairan gula merah. Sehingga rasanya manis bercampur gurih.

Keistimewaan lainnya, air untuk memasak ketupat ini bukan air yang lazim memasak yaitu air sumur, PDAM, atau air isi ulang. Namun, ketupat ketheg dimasak dengan air sumur yang mengandung minyak. Warga setempat biasa menyebut lanthung karena warnanya kehitaman.

[MITOS] PENINGGALAN SUNAN KALI JAGA

1. sumur
tepat dibelakang rumah sunan kalijaga terdapat sumur yg konon berasal dari 7 sungai yg berbeda. siapapun yg mandi di sumur ini (konon) akan sembuh dari segala penyakit yg di deritanya. salah satu peserta rombongan melakukan ritual ini, entah kebetulan atau tidak, setelah mansi dan minum dari air sumur ini si tante sembuh dari penyakit diabetesnya.

2. tembang lir-ilir

Kutipan tembang lir-ilir ternyata ada artinya dan menyangkut agama islam.

Adapun maksudnya adalah demikian :

sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci bersih, murni, sehingga ibarat seperti penganten baru, siapa saja ingin memandangnya,

“bocah angon” (pengembala) itu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syariat agama.

Sedangkan “blimbing” diibaratkan blimbing itu mempunyai/teridiri dari lima belahannya, maksudnya untuk menjalankan sembahyang 5 waktu.

Meskipun “lunyu-lunyu” (licin). tolong panjatkan juga, kendatipun sembahyang itu susah, namun Dirikanlah !

buat membasuh “dodotira-dodotira, kumitir bedah ing pinggir” maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi Dirikanlah guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini

“Dondomono, jrumatana, kanggo sebo mengko sore, dan surak-surak hore”. Maksudnya ” bahwa orang hidup di dalam dunia ini senantiasa condong kearah berbuat dosa segan mengerjakan yang baik dan benar serta utama,

sehingga dengan menjalankan sholat itu diharapkan besok dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bekal itu adalah beramal saleh.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: